AI untuk Plagiarisme Teks & Visual: Mendeteksi Penggunaan Langsung Output ChatGPT dan Template Canva dalam Tugas.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 11 Nopember 2025 - Plagiarisme di era Kecerdasan Buatan (AI) telah menjadi ancaman ganda yang meluas dari teks (melalui ChatGPT) hingga visual (melalui template Canva). Tugas guru adalah mengembangkan strategi deteksi yang berfokus pada integritas proses dan transformasi aset, bukan hanya kecocokan teks semata. AI kini berfungsi sebagai Auditor Integritas Proses untuk mengatasi tantangan ini.
Strategi deteksi dimulai dengan Verifikasi Proses Teks (Output ChatGPT). Detektor plagiarisme tradisional gagal karena AI Generatif menghasilkan teks yang unik. Guru harus menilai kedalaman pemikiran dan suara otentik siswa. AI dapat digunakan untuk memproses output esai dan mencari pola: (1) Kecepatan Sintaksis: Apakah tata bahasa, struktur, dan penggunaan kosakata terlalu sempurna dan tidak sesuai dengan profil penulisan historis siswa? (2) Generikitas Argumen: Apakah argumen yang digunakan hanya berupa pandangan umum yang mudah diakses AI, tanpa refleksi pribadi atau data lokal yang unik?
Asesmen Follow-up Berbasis Prompt adalah alat deteksi kritis. Guru tidak memberikan sanksi hanya berdasarkan kecurigaan. Guru meminta siswa untuk mengunggah prompt yang mereka gunakan kepada AI. Jika prompt siswa sangat sederhana ("Tulis esai tentang X") namun output akhirnya brilian, itu mengindikasikan siswa menyembunyikan prompt yang sebenarnya atau hanya menempelkan seluruh tugas. Guru dapat melakukan verifikasi lisan singkat melalui chat untuk menguji pemahaman konsep.
Selanjutnya, AI digunakan untuk Mendeteksi Reproduksi Visual (Template Canva). Plagiarisme visual terjadi ketika siswa menggunakan template Canva populer tanpa modifikasi kreatif yang substantif. Guru harus membuat Bank Template Populer yang sering digunakan siswa. AI (Gemini/alat Computer Vision) dapat digunakan untuk memindai proyek Canva yang diserahkan dan menilai: (1) Tingkat Modifikasi: Berapa persentase elemen (font, warna, tata letak) yang diubah dari template aslinya? (2) Penambahan Orisinalitas: Apakah siswa menambahkan grafik data unik atau ilustrasi kustom yang mereka buat sendiri?
Penilaian Berbasis Transformasi adalah kunci pedagogis. Rubrik penilaian harus memberi bobot tinggi pada nilai tambah manusiawi. Feedback harus fokus pada: "Anda menggunakan template yang tepat, tetapi Anda gagal mencapai skor tinggi pada kriteria Transformasi Visual karena Anda hanya mengganti teks, bukan desain." Ini mendorong siswa untuk menggunakan Canva sebagai alat desain, bukan alat penyalinan.
Mewajibkan Refleksi Metakognitif adalah bagian dari pencegahan. Siswa harus menyertakan jurnal singkat yang menjelaskan bagaimana dan mengapa mereka menggunakan ChatGPT untuk bagian tertentu dan bagaimana mereka memutuskan tata letak visual di Canva. Ini memaksa siswa untuk berpikir tentang proses, bukan hanya produk akhir.
Keamanan Data: Guru wajib mengingatkan siswa bahwa saat mengunggah draft esai ke ChatGPT untuk pemeriksaan tata bahasa, mereka harus menganonimkan semua PII (nama, ID siswa) untuk menghindari kebocoran data sensitif ke server AI.
Kesimpulan
Plagiarisme AI menuntut guru menjadi auditor proses dan integritas. Deteksi harus bersifat ganda: menggunakan AI untuk menilai keaslian sintaksis (ChatGPT) dan nilai transformasi visual (Canva). Dengan menuntut transparansi prompt dan bukti modifikasi kreatif, guru mengubah AI dari ancaman menjadi alat yang secara etis dapat membantu siswa dalam berkreasi dan berpikir kritis.