AI Melawan Kesenjangan Bahasa: Peran Kritis Gemini dan Google Translate dalam EdTech Global.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 5 Nopember 2025 - Perkembangan pesat Kecerdasan Buasan (AI) Generatif—terutama Gemini dan ChatGPT—telah memicu pergeseran peran yang paling signifikan dalam profesi guru. Guru tidak lagi diukur dari kemampuannya menyimpan dan menyampaikan informasi; peran itu kini diotomatisasi oleh AI. Guru harus bertransformasi dari "Penyampai Ilmu" (Sage on the Stage) menjadi "Prompt Engineer" (Architect of Learning).
1. Peran Lama: Penyampai Ilmu (Yang Diotomatisasi AI)
Tugas-tugas yang dulu memakan waktu guru kini diotomatisasi oleh AI, membebaskan mereka:
Penulisan Draf Materi: ChatGPT dapat menulis draf Rencana Pelajaran (RPP), modul, dan naskah video dalam hitungan menit.
Pencarian Fakta Dasar: Gemini dapat memberikan definisi, data, dan studi kasus terbaru yang akurat, mengatasi kesenjangan informasi dalam buku teks lama.
Pembuatan Soal Ujian Dasar: Kedua model dapat menghasilkan set soal pilihan ganda atau Benar/Salah secara instan.
Koreksi Tata Bahasa: AI secara otomatis memperbaiki grammar dan spelling pada tugas siswa.
2. Peran Baru: Prompt Engineer (Nilai Lebih Guru)
Sebagai Prompt Engineer, nilai guru terletak pada kualitas instruksi, kontekstualisasi, dan analisis hasil AI.
A. Mendesain Konten yang Lebih Baik
Keahlian Kontekstual: Guru tidak lagi mengetik, "Tuliskan tentang Revolusi Industri." Guru mengetik, "Tuliskan naskah debat Revolusi Industri dengan fokus pada dampaknya terhadap kelas buruh di Jawa Timur, menggunakan analogi game Minecraft. Target audiens: siswa kelas 10." (Mengintegrasikan lokalitas, konteks, dan referensi siswa).
Keahlian Spesialisasi AI: Guru yang mahir tahu kapan harus beralih model:
Prompt Gemini: Untuk tugas yang membutuhkan data real-time dan verifikasi fakta (misalnya, membuat soal berbasis data ekonomi terkini).
Prompt ChatGPT: Untuk tugas yang membutuhkan struktur naratif, role-playing, dan simulasi dialog (misalnya, untuk latihan komunikasi).
B. Mengelola Pembelajaran Siswa
Mendiagnosis Kegagalan: Guru menggunakan AI untuk menganalisis output siswa. Guru memberi prompt kepada Gemini: "Analisis transkrip diskusi WA Web ini. Identifikasi 3 miskonsepsi paling umum. Buatkan draf klarifikasi 3 baris yang lugas."
Personalisasi Intervensi: Guru menggunakan AI untuk intervensi personal. Guru memberi prompt: "Siswa ini kesulitan di [Topik X]. Buatkan 5 soal remedial yang dimulai dari tingkat kesulitan paling dasar." (Dikirim via PM WA Web).
3. Etika dan Pengawasan
Sebagai Prompt Engineer, guru memegang tanggung jawab etika yang lebih besar. Mereka harus menjadi gatekeeper yang memastikan konten yang dihasilkan AI:
Akurat: Memverifikasi fakta yang diberikan AI, terutama dari Gemini.
Bebas Bias: Mengoreksi bias yang mungkin melekat dalam output AI sebelum dibagikan.
Etis: Mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara transparan dan bertanggung jawab (misalnya, menuntut atribusi prompt).
Kesimpulan
Transisi peran guru dari Penyampai Ilmu menjadi Prompt Engineer adalah sebuah keniscayaan. AI (Gemini dan ChatGPT) mengambil alih tugas produksi dan administrasi yang memakan waktu. Nilai baru guru terletak pada kualitas input (prompt) yang mereka berikan, kedalaman analisis yang mereka lakukan pada output AI, dan sentuhan manusiawi yang mereka suntikkan kembali ke dalam pembelajaran, mengubah efisiensi teknologi menjadi pengalaman edukatif yang otentik.