AI di Balik Layar EdTech: Cara Kerja Algoritma (ssstiktok) dan NLP (Google Translate) dalam Mendukung Pembelajaran via WhatsApp Web.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 2 Nopember 2025 - Tentu, ini adalah artikel yang mengulas aspek teknis "di balik layar" dari alur kerja yang telah kita diskusikan.
AI di Balik Layar EdTech: Cara Kerja Algoritma (ssstiktok) dan NLP (Google Translate) dalam Mendukung Pembelajaran via WhatsApp Web
Kita sering membahas alur kerja EdTech: unduh dari ssstiktok, terjemahkan dengan Google Translate, dan diskusikan di WhatsApp Web. Alur ini tampak sederhana, tetapi di balik layar, ada dua jenis "kecerdasan" teknologi yang sangat berbeda yang membuatnya bekerja.
Di satu sisi, kita memiliki Algoritma Ekstraksi Data (ssstiktok). Di sisi lain, kita memiliki AI Pemrosesan Bahasa (Google Translate). Keduanya bukanlah "AI" dalam artian yang sama.
Memahami cara kerja keduanya sangat penting agar kita tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga navigator teknologi yang cerdas. Artikel ini akan membedah cara kerja algoritma di balik ssstiktok dan teknologi NLP di balik Google Translate.
Bagian 1: "Algoritma" di Balik ssstiktok — Sebuah Ekstraktor Cerdas
Kesalahpahaman yang umum adalah menganggap ssstiktok sebagai "AI". Sebenarnya, ssstiktok (dan alat sejenis) bukanlah AI; ia tidak belajar atau membuat keputusan. Ia lebih tepat disebut sebagai utilitas ekstraksi data atau web parser yang sangat efisien.
Algoritmanya adalah algoritma ekstraksi, bukan kecerdasan.
Cara Kerjanya "Di Balik Layar":
Menerima URL: Saat Anda menyalin tautan video TikTok, Anda sebenarnya hanya menyalin alamat "halaman sampul" dari video tersebut, bukan file video aslinya.
Mem-parsing Kode Halaman: Ketika Anda menempelkan URL itu ke ssstiktok, alat itu secara otomatis (seperti robot) "mengunjungi" tautan tersebut dan membaca kode sumber halaman web-nya (HTML, JavaScript, dll.).
Menemukan Tautan Tersembunyi: Tersembunyi di dalam kode itu adalah tautan langsung ke file video mentah (file
.mp4) yang tersimpan di server TikTok. Algoritma ssstiktok dilatih untuk memindai ribuan baris kode dan menemukan satu tautan spesifik ini.Menyajikan Tautan Bersih: ssstiktok kemudian mengambil tautan file MP4 mentah itu dan memberikannya kepada Anda sebagai tombol "Unduh".
Mengapa Tanpa Watermark? Watermark (tanda air) TikTok sebenarnya tidak ada di file video asli. Watermark itu ditambahkan oleh aplikasi TikTok secara real-time hanya saat Anda menekan tombol "Simpan Video" di dalam aplikasi tersebut.
Karena ssstiktok mengambil file MP4 asli langsung dari server sebelum aplikasi sempat menambahinya watermark, video yang Anda dapatkan bersih.
Peran dalam EdTech: "Kecerdasan" ssstiktok adalah kemampuannya mengamankan aset digital dalam bentuknya yang paling murni (MP4). Ia bukan AI, tapi ia adalah alat teknis vital yang memungkinkan proses kurasi terjadi.
Bagian 2: Jantung AI Sebenarnya — NLP di Google Translate
Di sinilah Kecerdasan Buatan yang sesungguhnya bekerja. Mesin di balik Google Translate adalah salah satu keajaiban Natural Language Processing (NLP), atau Pemrosesan Bahasa Alami.
NLP adalah cabang AI yang berfokus pada kemampuan komputer untuk memahami, menafsirkan, dan menghasilkan bahasa manusia.
Cara Kerjanya "Di Balik Layar" (Neural Machine Translation):
Dulu (sekitar 10-15 tahun lalu), Google Translate menggunakan Statistical Machine Translation (SMT). Sederhananya, ia menerjemahkan "kata per kata" atau "frasa per frasa" berdasarkan statistik. Hasilnya kaku dan seringkali salah konteks.
Sekarang, Google Translate menggunakan Neural Machine Translation (NMT). Ini adalah model Deep Learning (AI) yang bekerja dengan cara sangat berbeda:
Memahami Konteks (Bukan Kata): Saat Anda memasukkan kalimat, model NMT tidak langsung menerjemahkannya. Ia membaca seluruh kalimat (atau bahkan paragraf) terlebih dahulu untuk membangun "representasi makna" secara matematis.
Model Jaringan Saraf: Ia memproses makna ini melalui "jaringan saraf" digital—sebuah model yang terinspirasi dari otak manusia—yang telah dilatih pada miliaran pasangan kalimat dari berbagai bahasa.
Menghasilkan Terjemahan: Alih-alih menerjemahkan kata per kata, model ini membangun kalimat baru dari awal dalam bahasa target, berdasarkan makna yang telah ia pahami.
Inilah sebabnya mengapa Google Translate kini bisa memahami slang. Ia tahu bahwa "this slaps" dalam konteks ulasan makanan tidak berarti "ini menampar" (terjemahan literal), tetapi "ini enak banget" (terjemahan kontekstual), karena AI telah melihat pola itu ribuan kali dalam pelatihannya.
Fitur AI Tambahan yang Anda Gunakan:
Fungsi "Transkripsi" (Audio): Ini adalah gabungan dua AI. Pertama, ASR (Automatic Speech Recognition) mengubah gelombang suara audio menjadi teks. Kedua, NMT menerjemahkan teks tersebut.
Fungsi "Kamera" (Visual): Ini juga gabungan dua AI. Pertama, Computer Vision (CV) melakukan OCR (Optical Character Recognition) untuk "membaca" teks dari gambar. Kedua, NMT menerjemahkan teks tersebut.
Bagian 3: WhatsApp Web — "Ruang Kelas" Integrator
WhatsApp Web sendiri bukanlah AI dalam alur kerja ini. Perannya adalah sebagai platform integrasi atau "LMS-Ringan".
Ia adalah "ruang kelas" tempat kedua hasil teknologi tadi bertemu. "Kecerdasannya" terletak pada infrastrukturnya yang:
Multimodal: Memungkinkan guru untuk mengirim file video mentah (dari ssstiktok) dan teks (penjelasan guru + hasil terjemahan AI) dalam satu paket yang mulus.
Asinkron: Memungkinkan siswa untuk mencerna materi di waktu mereka sendiri.
Aksesibel: Berbasis teks dan file, yang jauh lebih ringan daripada streaming video terus-menerus.
Kesimpulan
Memahami "di balik layar" ini memberi kita perspektif baru. ssstiktok adalah alat ekstraksi teknis. Google Translate adalah mitra AI NLP kita. Dan WhatsApp Web adalah platform sosial kita.
Kekuatan sesungguhnya tidak terletak pada salah satu alat, tetapi pada kecerdasan pedagogis guru yang merangkai ketiganya. Gurulah "AI" yang sesungguhnya—menyaring (verifikasi), memberi konteks, dan mengubah teknologi ini dari sekadar alat menjadi pengalaman belajar.