AI & Anomali: Mengidentifikasi Serangan Siber pada Proxy dan WA Web Berdasarkan Data Cuaca Digital.
s2tp.fip.unesa.ac.id, 3 Nopember 2025 - Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam keamanan siber modern telah bergeser dari sekadar mendeteksi ancaman yang sudah dikenal menjadi mengidentifikasi anomali—penyimpangan statistik dalam perilaku normal jaringan—yang mengindikasikan adanya serangan siber baru atau sedang berlangsung. Dalam konteks pengguna WhatsApp Web (WA Web) yang terhubung melalui proxy atau VPN, deteksi anomali oleh AI adalah satu-satunya pertahanan yang efektif terhadap serangan yang bersembunyi di balik enkripsi.
Dasar Anomali: Membangun "Cuaca Digital Normal"
AI pertama-tama harus membangun model dasar dari "cuaca digital normal" untuk server proxy atau koneksi WA Web. Ini mencakup parameter seperti:
Volume Data: Rata-rata jumlah megabyte yang melewati server per menit.
Waktu Latensi: Waktu tunda (ping) rata-rata koneksi ke server WA.
Pola Akses Pengguna: Rata-rata jumlah sesi yang dibuat dan dihancurkan per jam, dan lokasi geographical endpoint yang normal.
AI Mengidentifikasi Serangan Siber Berdasarkan Anomali
Ketika server proxy yang digunakan oleh pengguna WA Web diserang, AI akan mendeteksi empat jenis anomali utama yang menunjukkan adanya aktivitas jahat, bahkan jika data lalu lintas terenkripsi:
Anomali Volume dan Durasi Sesi (Indikasi Session Hijacking):
Pola Normal: Sesi WA Web memiliki durasi yang bervariasi, tetapi volumenya sesuai dengan aktivitas pengguna (misalnya, banyak pesan dikirim).
Anomali Serangan: AI mendeteksi lonjakan tiba-tiba dalam jumlah sesi baru yang dibuat dari IP yang sama dalam waktu singkat, diikuti dengan sesi yang memiliki durasi sangat pendek atau sesi yang memiliki durasi sangat panjang tanpa aktivitas pesan yang nyata. Ini adalah tanda-tanda klasik dari upaya peretas (attacker) untuk melakukan brute force pada kredensial sesi atau upaya session hijacking untuk mempertahankan akses tanpa interaksi pengguna.
Anomali Lalu Lintas DNS dan Egress (Indikasi Man-in-the-Middle):
Pola Normal: Lalu lintas keluar (egress traffic) harus sebagian besar diarahkan ke server yang relevan dengan WhatsApp dan endpoint VPN/proxy.
Anomali Serangan: AI mendeteksi permintaan Domain Name System (DNS) yang sangat tinggi ke domain yang sebelumnya tidak dikenal, atau koneksi data yang diarahkan ke IP mencurigakan di luar tunnel VPN. Ini mengindikasikan adanya perangkat malware di PC klien atau server proxy itu sendiri telah disusupi (compromised), mencoba berkomunikasi dengan command-and-control (C2) eksternal untuk mengekstrak data yang ditangkap sebelum enkripsi.
Anomali Latensi dan Packet Loss (Indikasi Flooding atau DDoS):
Pola Normal: Latensi koneksi harus stabil (misalnya, di bawah 150ms) dengan packet loss yang minimal.
Anomali Serangan: AI mendeteksi lonjakan tajam dan tidak wajar dalam packet loss dan round-trip time (latensi) pada server proxy tertentu. Meskipun ini bisa berarti kemacetan jaringan, jika diikuti dengan kegagalan koneksi massal, itu mengindikasikan serangan Denial-of-Service (DDoS) yang menargetkan server proxy tersebut. AI akan secara otomatis merutekan ulang pengguna WA Web ke server yang berbeda.
Anomali Bahasa dan Konten (Penggunaan NLP/NLU):
Pola Normal: Percakapan memiliki pola linguistik yang beragam.
Anomali Serangan: Dalam konteks pesan yang melewati server proxy yang disusupi, AI yang menganalisis lalu lintas yang dicurigai (walaupun terenkripsi) dapat mencari anomali berupa lonjakan pesan yang berisi tautan mencurigakan, kata kunci phishing, atau payload kode. Walaupun AI tidak dapat membaca pesan E2EE, metadata dan unencrypted signaling dapat memicu peringatan.
Kesimpulan
AI adalah garda terdepan dalam keamanan siber di balik proxy. Dalam alur kerja WA Web, AI bertindak sebagai "sistem kekebalan" yang terus-menerus membandingkan perilaku jaringan saat ini dengan "cuaca digital normal". Dengan mendeteksi anomali dalam pola lalu lintas, latensi, dan durasi sesi, AI dapat mengidentifikasi serangan siber (seperti session hijacking atau malware) secara real-time dan merutekan pengguna menjauh dari ancaman, bahkan ketika data komunikasi utama terenkripsi. Ini mengubah keamanan dari reaktif menjadi prediktif.